Review Violet Evergarden : Anime Romance yang Indah


Violet Evergarden bisa jadi menjadi satu-satunya anime dengan genre romance yang sangat aku niatkan untuk selesai menontonnya, berhubung aku bukanlah penikmat kisah-kisah romance yang diangkat menjadi film atau anime jepang (sebatas manga saja).

So, mendapati betapa aku begitu terhanyut dalam suasana yang dihadirkan anime ini selama menontonnya tentu saja memberikan kesan mendalam untukku secara pribadi.

Kisah Violet Evergarden sangat mencerminkan judulnya, yaitu mengisahkan tentang bagaimana seorang gadis mencoba untuk mengenal makna dari perasaan dan emosi manusia. Premis yang diangkat sudah menarik meskipun eksekusinya sudah sering dituangkan dalam berbagai jenis film dan drama. Hanya saja aku pribadi belum pernah melihat kisah dimana pemeran utamanya adalah tokoh wanita dengan kedalaman dimensi seperti Violet dalam cerita ini di film ataupun anime lainnya.

Mungkin aku bahkan sedikit trauma dengan anime-anime jepang yang mengambil genre romance, karena seringkali tidak sesuai ekspektasiku yang mengharapkan lebih baik dari komiknya. Tapi cerita Violet Evergarden sejak awal tidak ditujukan untuk gadis-gadis yang menginginkan kisah romance mendayu-dayu seperti kisah cinta anak SMA, Kisah cinta yang dihadirkan oleh Violet Evergarden memiliki sisi kedewasaan yang lebih masuk akal untuk diterima dalam kehidupan sehari-hari. Tidak terlalu muluk dan penuh pengharapan, tetapi lebih kepada penerimaan akan perasaan itu sendiri.

Aku memutuskan menonton film ini setelah melihat trailernya, dan maraton animenya sebelum nonton filmnya yang tayang tahun 2020 kemarin di Jepang. Aku melihat kisah yang dihadirkan VE sepertinya cukup istimewa untuk ditayangkan di luar Jepang, dan aku yakin tidak mungkin kisahnya akan sedangkal kisah-kisah anak SMA pada umumnya.

Oya, mungkin ini tidak bisa dibandingkan, tapi aku ingin membandingkan saja. 
Kalau cerita Dilan mungkin menjadi film yang sangat fenomenal versi Indonesia, jujur secara alur cerita kisah yang dihadirkan Violet Evergarden menurutku berada di peringkat yang lebih tinggi daripada Dilan (versi film). Yang sangat membedakan, adalah ketidaksempurnaan dalam tokoh di dalam film VE ini dieksekusi dengan sangat baik sehingga sulit bagi orang untuk langsung kagum dengan tokoh-tokoh ini. Aku selalu suka dengan tokoh-tokoh tidak sempurna, karena menjadi sangat relatable bagi kebanyakan orang. Dan menjadi motivasi untuk orang lain menjadi diri lebih baik lagi.

violet evergarden gilbert mayor
violet evergarden gilbert mayor


Sejak awal tokoh Violet yang menjadi pemeran utama bukanlah tokoh yang sempurna, sama sekali. Baiklah ia cantik dan jujur. Tapi itu saja. Ketidakmampuan dirinya dalam mengartikan berbagai emosi dan kejujurannya yang sangat frontal adalah kelemahannya yang membuat sosok ini menjadi mudah mendapat empati dari orang-orang yang melihat perkembangan tokoh ini. Bukan empati karena kasihan, tetapi karena melihat kemampuan tokoh ini untuk mau belajar.

Memang perjalanannya mengartikan emosi dan menjadi wanita seutuhnya bukan perjalanan yang cepat, dan sangat butuh proses. Tapi keinginannya untuk belajar, dan mungkin jenis heroin yang seperti ini adalah salah satu tipe yang kusukai, dan keteguhannya untuk hanya mencintai satu orang itu keren sih. Jadinya gak gampang tergerak oleh tokoh-tokoh lain yang mencoba mencuri perhatiannya. Secara Violet ini baik, cantik, dan polos. Dia menarik, wajar jika menjadi dambaan banyak lawan jenis. Tapi karena yang ada di hati tokoh Violet ini adalah karakter yang baginya sudah menjadi fondasi hidup, tiang segalanya, dan satu-satunya yang sungguh merubahnya, dan mungkin baginya udah best of the best, jadi yaa susahlah ya tergerak sama yang lainnya yang jelas levelnya tidak menyamai tokoh Gilbert di hatinya. Karena kalau dicerita lain mungkin tokoh heroinnya mengalami benci tapi cinta, disini sejak awal tokoh heroinnya sudah jatuh cinta dan kebetulan, tidak ada tokoh hero lain yang jadi second lead male yang bikin kesel. Dan dari keseluruhan film yang aku tonton, aku suka cerita ini tidak fokus menghadirkan kisah-kisah cinta segitiga, salah paham, atau penghianatan untuk membuat penonton terhanyut dalam ceritanya.

Bahkan dengan hanya fokus pada emosi seperti rasa rindu, cinta, dan kasih saja sudah bisa cerita VE ini membuatku, terutama, tersentuh dengan keseluruhan ceritanya. 

violet evergarden gilbert mayor
violet evergarden gilbert mayor


Oke, kenapa disini aku banyak bahas tentang eksekusi cerita romancenya ya? Ya, karena sebenarnya cerita ini mau dibilang fokus ke romance enggak juga. Tapi kisah cintanya itu lah yang bikin alurnya sedemikian rupa sehingga terjadi perkembangan dari kepribadian tokoh violet. Istilahnya, kalau di anime-anime lain tokohnya ingin mencapai tujuannya menjadi si A,B,C.. dsb, nah disini si tokoh utama cuma pingin tau satu hal: cinta itu apa sih? gitu aja. Tapi alasan di belakang pertanyaan itu maniss sekali sampai-sampai nggak bisa gitu kalau nggak ngikutin perjalanan dia.

Disisi lain, cerita ini menghadirkan harapan mengenai tokoh Gilbert yang dibahas terus oleh si tokoh utama, dan bikin penonton berharap. Apakah harapan itu akan menjadi kenyataan atau menjadi sekadar harapan? Yah, tonton aja filmnya.

Dan jangan lupa, Violet Evergarden adalah cerita mengenai perjalanan tokoh Violet dalam menemukan makna hidupnya, so dalam perjalanannya sangat wajar jika ia bertemu dengan banyak tokoh dan mengalami pengalaman yang berbeda-beda. Karena menurutku cerita ini ya memang tentang itu; Perjalanan, Journey.

Overall. Aku nggak kecewa sama anime ini sih. Cerita cinta yang tidak disuguhkan dengan keberadaan bunga-bunga yang biasanya menjadi khas anime romance, tidak juga dengan kesalahpahaman atau benci jadi cinta yang biasanya menjadi fondasi sebuah kisah drama, tidak juga perlu orang ketiga maupun penghianatan untuk membuat perasaan kita menjadi roller coaster. Anime ini bisa menyajikan di luar hal-hal tersebut tapi tetap berhasil menjadi tontonan yang sangat menyentuh dan sangat romantis.

Dan satu lagi, aku mau bilang di filmnya, demi apa mengingatkan aku dengan novelnya Hujan Tereliye. Kupikir, kalau Hujan dijadikan sebuah film, mungkin tokohnya akan seperti Violet dan Gilbert kali ya.

Kritik terhadap film ini?
Cek di spoiler ya



Spoiler:
Aduh, momen reunian ini terbaik deh. Gilbert cakep banget dahhhh.... Kritik: Menurutku memang fokusnya agak terbagi sih, mau fokus Violet-Gilbert atau Violet dan perjalanannya sebagai Doll. Kalau memang mau Violet-Gilbert, menurutku ya kurang puas.. meskipun rasa rindu terobati saat mereka akhirnya saling berhadapan, tapi kurang 5-10 menit lagi sih menurutku. Dan agak kurang klimaks pas mereka ketemu, padahal poin yang mau dihadirkan dari awal cerita kan harusnya bagian tersebut. Aku baca versi novel yang bagian ending, dan di film memang lebih dramatis sih ketemuannya, tapi pertemuan/reuni di novel terasa luapan emosinya kayak pingin nangis gitu. Disini cuma kurang sedikit saja dari sudut pandang Gilbert kenapa dia bisa jatuh cinta sama Violet. Karena kalau dari sisi Violet kita sudah cukup bisa melihat lah seberapa kuat perasaannya dari sekian seringnya Gilbert muncul di hari-harinya dan bahkan bagaimana cara dia menulis surat untuk Gilbert udah nggak perlu diragukan lagi. Gilbert kalau bukan karena emang ganteng banget disini, mungkin dia akan lebih terlihat seperti cowok yang sedang merajuk aja gitu wkwk.



Tapi segi visualisasi romance, alur dan keseluruhan cerita dari cerita ini dibandingkan dengan anime lain dengan genre romance yang sama, ini jauh jauh melebihi ekspektasiku. So dari aku nilai untuk anime ini adalah 8/10. 


 Salam, Adlina Haezah

Komentar