Perjuangan Lulus dari ISI Jogja jurusan Film & Televisi - Part 2 (re-write blog)



So, setelah aku selesai menuliskan kisahku di ISI di postingan ini (klik pada link), dimana aku harus melewati gagal proposal, akhirnya tanpa takut kegagalan selanjutnya, kulakukan lagi dan finally aku berhasil.

Tapi berhasil lulus proposal itu masih belum apa-apanya dibandingkan proses menyelesaikan skripsi itu sendiri. 

Dan dari sidang sampai lulus itu, artikelnya sudah aku tulis di post sendiri-sendiri di blog ini, so we will refer direct to the page.

Aku inget banget tuh, pernah merasa down banget-nget-nget gara-gara ditinggal temen-temen seperjuangan sidang duluan. Alasannya jelas karena skripsiku sendiri belum siap, bimbingan masih jarang, dan aku agaknya masih fokus sama prioritas2 lain (a.k.a cari uang). Sedih sih awalnya, tapi akhirnya itu kujadikan moment untuk berdamai diri sendiri dan lebih fokus pada prosesku sendiri tanpa melihat orang lain. Selengkapnya bisa dicek disini: 



Emang seberlebihan itu, sampai-sampai aku mau nangis lho ditinggal sidang doang padahal, bukan ditinggal mati... hmm...

Tapi setelah itu, beneran deh, aku bisa fokus sampai-sampai nggak terasa saja, tiba-tiba aku berada dititik dimana aku sudah disuruh maju (padahal jelas-jelas aku malah nggak kepikiran) dan itu jadi drama yang rasanya perlu aku tulis.


Tapi setiap hal yang terjadi dalam hidup, setiap keputusan, sudah diperhitungkan oleh Tuhan dengan kalkulatorNya sendiri. Bahkan ketika kita sendiri mungkin belum cukup percaya diri untuk maju, kalau Tuhan sudah menggariskan kita untuk maju, ya kita akan bisa melalui setiap rintangannya.

Dan jalanku menuju sidang itu lebih seperti keajaiban. Semua berlalu hanya bermodal kekuatan saja.


Aku percaya, sebelum kita naik level di kehidupan ini, kita selalu dipersiapkan dengan cara-cara yang unik. Aku untuk bisa sidang, sebelum-sebelumnya sudah terlebih dahulu datang ke sidang-sidang temanku, sehingga meskipun tegang, minimal aku tidak lagi meraba atau bertanya-tanya seperti apa situasi yang akan dihadapi. Meskipun menakutkan, tapi aku tahu siapa yang harus kuhadapi. Dan beginilah rasanya sidang di ISI untuk jurusan film dan televisi pada tahun 2018 yang lalu.



Aku merasa, untuk sampai di titik menjadi seorang sarjana di ISI, tidak ada yang mengalaminya sebatas biasa saja. Aku saja yang hanya mahasiswa biasa, merasa itu adalah momen yang luar biasa untuk kualami sepanjang hidup. Meskipun aku belum dan tidak berencana untuk lanjut ke S2 tapi ini adalah pengalaman yang ternyata kubutuhkan sebelum aku melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya. Padahal dulu aku merasa kalau lulus SMK saja cukup, tapi secara mindset dan mental tetap berbeda jika aku lulus dari perguruan tinggi yang mengajarkan lebih banyak daripada sekadar pelajaran.

Dan sampailah aku di akhir perjalanan yang sudah kutuliskan dalam beberapa postingan saking aku merasa itu adalah salah satu momen terbaik dengan pelajaran berharga di sepanjang hidupku.




Semoga apa yang kuceritakan disini bisa menjadi inspirasi untuk teman-teman yang sedang menuju skripsi dan bingung apa yang akan dihadapi saat skripsi nanti. Meskipun setiap individu dan universitas jelas memiliki sistem yang berbeda, tapi disini aku lebih berbagi tentang apa mental yang perlu dipersiapkan ketika kita sudah sampai di titik akhir kuliah.



Salam, Adlina Haezah

Komentar