Ternyata Masa Lalu dan Masa Depan itu Tidak Pernah Ada! Cara untuk fokus di masa kini agar Lebih Tenang


Sharing salah seorang guruku di Herbalife malam kemarin sangat membuatku bersemangat untuk memulai hari ini. Sebuah materi yang sudah hampir kulupakan selama beberapa bulan belakangan. Esensi yang tidak juga bisa kupahami dengan benar sekalipun aku sebetulnya sudah tahu maksudnya apa.

Pembahasan yang melengkapi pemahamanku tentang pentingnya kita untuk Present Momen atau Berada di Masa Sekarang, Saat Ini.

Pertama kali aku mendapatkan pemahaman ini satu tahun yang lalu, aku baru benar-benar mengerti mengenai present moment yang orang-orang kisahkan di luar sana. Selama ini aku mendengar teori tersebut, tapi aku tidak tahu seberapa besar dan seberapa penting pemahaman akan hal tersebut. Karena tidak mengerti, aku jadi mengabaikan.

Saat dibahas berkali-kali, aku terus bertanya: untuk apa? Kenapa kita harus di masa sekarang, padahal ada masa lalu, padahal ada masa depan? Kenapa kita tidak boleh memikirkan masa depan?

Dan titik pemahamannya muncul satu tahun yang lalu saat materi yang tidak sengaja kuperoleh adalah 3 jam penuh pembahasan mengenai hal ini.

Itu adalah pertama kalinya aku mendapat guru LOA yang menjadi favoritku selama di Herbalife, dan pertama kalinya pemahaman akan pentingnya selalu berada di masa kini menjadi penting. Aku paham kenapa kita tidak boleh berada di masa lalu, kenapa kita tidak boleh berada di masa depan, tapi kita harus selalu berada di masa sekarang. Kemarin beliau sharing lagi dan membuatku lebih paham lagi tentunya.

Aku sangat bersemangat untuk sharing mengenai pemahaman ini ke teman-teman yang menyukai pembahasan tentang pengembangan diri. Sekaligus kutulis untuk mengingatkan aku mengenai pemahaman yang kudapat takut tiba-tiba aku lupa lagi.

Materi mengenai present moment ini cukup sulit aku peroleh di Indonesia, dan dari luar aku mendapatkannya dalam versi video.

Apa yang kubagikan berikut adalah pemahaman yang aku simpulkan dari beberapa sumber yang sudah kupelajari, dan sangat berguna jika kita benar-benar mengaplikasikannya. Ada banyak hal ilmiah seputar bagian otak yang juga dibahas selama pelatihan, tapi untuk membuatnya sederhana aku akan membuatnya semudah mungkin untuk dipahami.

1. Masa Lalu dan Masa Depan Tidak Pernah Ada

Pemahaman pertama yang perlu benar-benar dipahami adalah kedua hal tersebut tidak pernah ada. Masa lalu dan masa depan adalah hal yang sampai saat ini terus menerus para ilmuwan terus mencoba ungkap dan terobos untuk bisa terlewati. Menembus dimensi keempat. Kembali ke masa lalu dan pergi ke masa depan. Time Travel. Lorong Waktu. Pernah dengar?

Ya. Masa Lalu dan Masa Depan itu hanya ada di film-film dan cerita time travel. Tapi sebetulnya di dunia nyata tidak pernah ada. Nope. Nothing.

Kamu selalu berada di masa sekarang. Di waktu ini. Di detik ini.

Tapi bukankah masa lalu itu ada? Karena kamu yakin bahwa kamu pernah berada di situasi yang bukan saat ini. Masa lalu itu adalah ingatan. Kamu pernah melewatinya, ya. Tapi bukan berarti kamu saat ini ada di saat itu lagi.

Bukankah masa depan itu ada? Karena terus-terusan kamu berfikir mengenai gambaran kamu di masa depan? Yes, karena masa depan itu adalah proyeksi. Tapi kamu belum berada di sana kan? Dimana kamu sekarang? Ya sekarang. Di masa kini. Di waktu ini. Sedang membaca tulisan ini.

Judul yang sudah kamu baca tadi sudah menjadi masa lalu. Ketika kamu scroll lagi kembali ke judul, kamu tetap berada di masa ini, bukannya kembali lagi ke masa lalu.

Kamu hanya hidup di waktu sekarang, tidak terikat oleh waktu. Sebetulnya tidak dalam detik, dan mili detik, atau bahkan menit. Sekarang itu bukanlah waktu, tapi masa kamu bernafas dan hidup.

Artinya, masa lalu sudah terlewat, dan masa depan akan datang. Waktu-waktu itu datang dan pergi, dan kamu sebenarnya tidak pernah mengejar maupun meninggalkan mereka. Waktumu selalu ada di satu titik yang sama, dan kamu tidak pernah kemana-kemana.

Saat aku mendapat pemahaman ini, bahwa aku ternyata selalu berada di titik yang sama, aku cukup tercengang.

Aku baru paham, bahwa selama ini aku hidup di masa kini, tapi aku sering lari dari masa ini. Menghabiskan waktu untuk galau, memikirkan masa lalu. Kalau saja, kalau saja dulu begini, kalau saja dulu begitu.Seperti orang yang melakukan perjalanan waktu, aku membawa pikiranku ke masa lalu, padahal tahu tidak ada yang bisa diubah di masa lalu.

Kadang kala, kubawa pikiranku ke masa depan. Melihat gambaran hidupku disana, tapi terlalu lama hingga lupa kembali ke masa kini. Terlalu lama bermain di masa depan, lupa bahwa masa depan akan tercipta tergantung apa yang kita lakukan di masa kini. Sedangkan apa yang tubuh ini lakukan saat pikiran kita berkelana? Tidak melakukan apa-apa. Ha! Aku sangat miris dengan hal ini kalau dipikir-pikir.

Itulah kenapa kita mengenal istilah nasi sudah menjadi bubur.

Dan kita mengenal istilah mimpi di siang bolong.

Bahkan orang indigo yang bisa melihat bagaimana masa depan kamu, itupun sebenarnya hanya proyeksi dari siapa dan apa kamu di saat ini. Itulah kenapa ramalan akan menjadi benar dan tidak adalah tergantung bagaimana kamu memproyeksikannya dari masa sekarang.

2. Present Moment, Masa Sekarang, adalah Waktu Bahagia

I love this one. Berlatih untuk tidak membawa pikiran kita ke masa lalu dan tidak terlalu bersenang-senang di masa depan itu memang susah.

Sekalipun pemahaman di poin 1 sudah di dapat.

Padahal, sebetulnya itulah tempat kita merasa perasaan negatif.

Saat memikirkan masa lalu, kita merasa: sedih, galau, menyesal, bersalah, rindu.

Saat memikirkan masa depan, kita merasa: takut, khawatir, gugup.

Kita mencari perasaan bahagia, tapi sebetulnya perasaan itu hanya hadir saat kamu merasakannya sekarang. Perasaan-perasaan negatif itu juga ada di masa sekarang, tapi dari buah pikiran yang kamu bawa dari masa lalu dan masa depan. Apa gunanya?

Bukankah kita hidup untuk merasa bahagia?

jadi saat kamu berada di masa kini, kuatkan kelima indra. Apa yang diraba, dirasa, dikecap, dicium, dan diliha? Itulah masa kini kamu. Apa yang kamu rasakan? Kamu akan merasa bersyukur dengan apa yang kamu miliki saat ini. Maka itulah kunci untuk kamu merasa bahagia.

3. Kembali ke Masa Lalu dan Masa Depan Bukan Hal Yang Buruk

Tidak buruk jika kamu tidak merasa buruk dan merasakan perasaan negatif.

Tidak buruk jika dengan itu kamu merasa bahagia.

Tapi, bahagia akan sebuah masa lalu yang terlewat itu… adalah sebuah penyesalan. Karena saat kamu menyadari bahwa masa lalu kamu lebih bahagia, kamu merasa kecewa dengan situasimu saat ini. Justru itulah yang harusnya dihindari.

Memikirkan masa depan yang cerah itu membahagiakan. Tapi saat kamu merasakannya di masa kini, memandang masa depan yang belum muncul itu, kamu menjadi gugup dan takut. Padahal masa depan kamu mengikuti perasaan kamu saat ini. Bayangkan jika masa depan itu hadir saat kamu merasa gugup dan takut? Bukankah kamu tidak akan berani menggapainya?

Masa depan disambut dengan perasaan siap dan bahagia. Dan kesiapan kamu diuji adalah di masa kini. Sehingga kita diajarkan untuk visualisasi dan afirmasi diri. Karena disitu kita mencoba berada di masa depan pada saat ini, dengan situasi yang ada di saat ini. Menjadi apa yang kita mau saat ini juga.

Bukankah itu hal hebat?

4. Bersikap Positif Tidak Memerlukan Situasi

“Bagaimana cara untuk tetap bersikap positif di situasi yang sulit?”

Guruku menjawab: positif tidak memerlukan situasi

situasi itu ada di luar diri kita, ada di luar pikiran kita. Situasi itu adalah hal eksternal, sedangkan perasaan dan bersikap positif adalah hal yang kita munculkan secara internal dari dalam diri.

Tapi bukahkan situasi sulit itu mempengaruhi cara bersikap kita?

Benar. kalau kamu mengambil persepsi bahwa diri kamu bisa dikendalikan oleh situasi.

Padahal dalam setiap situasi, apapun itu, kamu bisa mengambil sikap sesuai yang kamu mau. Terserah apa yang kamu pikirkan, kamu bisa mengambil sikap: menjadi positif atau negatif.

Pilihan itu selalu ada di tanganmu. Saat kamu merubah sudut pandang kamu akan sebuah situasi, maka kamu akan mengubah situasi itu dengan sendirinya.

5. Masalah Hanya Ada di Pikiran

Aku juga suka sekali dengan poin ini. Ada sebuah pertanyaan yang mirip dengan poin 4, mengenai bagaimana cara menghadapi sebuah masalah?

Kemudian guruku menjawab: sekarang kamu sedang mendengarkan sharing ini, dan anak kamu sedang bermain di kamar di lantai atas. Kamu merasa ketakutan anak kamu akan jatuh dari tangga, sehingga terus-terusan kamu memintanya untuk berhati-hati. Padahal pada kenyataannya, masalah ‘anak kamu jatuh’ itu tidak ada. Hanya ada di pikiran saja. Realitanya, anak kamu masih ada di kamar, bermain.

Jika masalah kamu adalah hal tersebut, itu artinya kamu hanya perlu kembali ke masa kini, karena kamu berada di masa depan yang itu tidak terjadi di saat ini. Kamu sesungguhnya hanya meramalkan suatu hal yang belum terjadi, dan itu menguras energi: karena kamu menjadi marah, dan takut.

Itu waspada namanya.

Ya. Waspada bukanlah hal yang salah. Tapi itu proyeksi kamu akan kejadian di masa depan, lagi.

Seharusnya kamu mengurangi tingkat kecemasan itu, dengan melakukan apa yang kamu bisa di saat ini dan masa kini. Seorang pembicara favoritku, Mel Robbins, memiliki cara yang ampuh untuk mengembalikan kita ke masa kini dengan menjadikan sebuah kecemasan yang bersifat merusak menjadi kecemasan yang bersifat penyelesaian.

Jika memang kamu khawatir anak kamu jatuh: bawa anak kamu turun, atau lakukan penjagaan di dekatnya: menyuruh seseorang mengawasi.

Itu akan membuat kamu merasa aman, karena kamu akan kembali ke masa kini dengan cepat.

Ternyata ini juga bisa kamu lakukan di situasi lain. Dan itu luar biasa.

6. Hadapi Masalah Hanya yang Ada di Depan Mata

Berbeda dari poin ke-5. Sebut itu masalah jika memang terjadi di depan mata. Kamu sudah melakukan pencegahan untuk merasa aman dan tetap di masa kini, tapi ketika suatu musibah menimpamu di depan mata, saat ini juga: yaitu saat kamu sedang membaca tulisan ini, maka musibah itu akan datang bersama dengan hikmah. Satu Paket.

Itu membuatku luar biasa lega saat guruku menerangkan mengenai poin ini. Bahwa saat masalah datang, itu adalah proses kamu dinaikkan derajatnya. Kamu sedang naik level. Kamu sedang menghadapi ujian yang ujian itu sudah sangat dihadirkan sesuai kesiapan dan kemampuan kamu.

Ya, Allah memberikan cobaan dan ujian tidak pernah di luar batas kemampuan hambanya. Sebuah kalimat yang sudah tidak terhitung berapa kali kudengar, tapi kita selalu berfikir bahwa kita tidak sanggup menghadapi cobaan itu: padahal seringkali ujiannya saja belum mulai dan belum datang. Lagi-lagi sebuah kekhawatiran kita akan masa depan.

Kamu akan menyadari, bahwa semua ujian dan cobaan hidup yang kamu dapat hingga kamu masih bisa bernafas hingga detik ini adalah pertanda bahwa kamu bisa dan mampu melewati segala ujian itu.

Itulah kenapa, tetap tidak ada alasan untuk kamu merasa takut dan gugup ataupun waspada akan sesuatu yang belum terjadi. Bahkan saat benar-benar terjadipun, kamu pasti sudah siap. Jadi… betul memang, untuk apa kita khawatir?

7. Latihan Pernafasan Untuk Kembali ke Masa Sekarang

Latihan pernafasan sangat amat membantu untuk merasa tenang. Pernafasan akan menurunkan tingkat detak jantung menjadi lebih tenang, dan membuat hati menjadi lebih damai.

Itulah kenapa orang suka sekali bermeditasi. Karena mencari ketenangan.

Tapi, pikiran kita memang suka sekali berlarian kesana kemari, ke masa lalu, ke masa depan.

Latihan pernafasan memang harus dilatih sehingga tidak sulit untuk mengembalikan diri kamu di masa sekarang.

Aku sendiri melatihnya dengan menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan sangat pelan. Lakukan 2–3x atau sampai merasa tenang. Saat kamu sadar, kamu akan menhadapi situasi kamu saat itu: baik ataupun buruk. Jika baik, syukurilah setiap hal terkecilnya, jika buruk hadapi karena kamu tahu ada hikmah yang menyertai,

Hidup ini luar biasa teman,

jadi nikmatilah dengan penuh semangat.


Salam, Adlina Haezah

Komentar