Review Attack on Titan (Shingeki No Kyojin)



Ini adalah anime kedua terfavorit setelah Naruto. Yah, aku emang belum nonton banyak anime Action sih, tapi gara-gara nonton Attack on Titan rasa-rasanya aku sekarnag sudah siap unutk menonton film anime lain.

Aku sempat nonton Sword Art Online, tapi aku nggak suka sama perkembangan alur dan ceritanya. Mmm.. ini sih, aku nggak sukanya, ya masa adek jatuh cinta sama kakaknya. Walaupun okelah, itu bukan adek kandung ya katanya. Aku baru tahu sih, kalau sepupuan, tapi hubungan mereka selama ini sama sekali nggak kelihatan kayak bukan saudara gitu loooh.

Anyway, balik ke AOT. So, aku sukaaaaa banget sama anime ini. Siapa sangkaaa, perasaan yang pernah aku dapatkan saat menonton Naruto, dengan haru biru yang tidak kunjung selesai, kutemukan juga di Attack On Titan.

Yah, secara makna cerita sih Naruto lebih bersahabat, walaupun bikin air mataku berderai. Di AOT mungkin bukan nilai ceritanya yang banyak bikin aku menangis, lebih kepada ketragisan ceritanya. Tapiii... ketika bicara soal pasukan, gotong royong, dan kebersamaan, uugh aku berhasil dibikin kejer dan merinding.

Dan aku suka banget tema itu.

Tema-tema cerita action yang menjunjung tinggi persatuan itu selalu menarik minatku. Jadi itulah kenapa nggak heran aku bisa sesuka ini sama AOT, bahkan setelah taman season ketiganya pun aku masih rindu setengah mati sama animenya, miriplah kayak waktu aku menamatkan naruto. 

Getaran kemenangan yang sangat membuat terharu.

Sayangnya, AOT belum tamat gaes, masih ada satu season lagi sehingga review ini pun akan diupdate mengikuti seasonnya setelah keluar ya.





Eren, Armin, dan Mikasa adalah Trio yang tidak bisa kita lepaskan dari keseluruhan cerita. Ketiga tokoh ini sudah muncul sejak scene awal episode Attack on Titan. Intinya, dimana ada Eren maka ada Mikasa dan Armin. Tentunya keberadaan Mikasa dan Armin aku yakin tidak begitu saja diletakkan di sebelah Eren tanpa sebuah alasan. Mikasa dengan kekuatannya dan Armin dengan kepintarannya tentu saja sudah sangat dipikirkan bagaimana kedua tokoh ini akan menopang Eren di masa depan.

Awalnya aku tidak terlalu peduli dengan perkembangan karakter mereka, terutama Armin, aku tidak menyangka ia akan diberikan sebuah karakter seperti apa yang kita kenal saat ini. Kurasa kedua tokoh pendukung ini tidak mungkin sih muncul dengan rasa benci di awal cerita. Jadi aku yakin Isayama Hajime sudah memikirkan matang-matang bahwa kedua karakter penting ini sekalipun dalam cerita tampak seolah menghianati Eren, tapi tidak mungkin akhir cerita mereka menjadi mengenaskan. Aku yakin Isayama menyukai kedua karakter utama ini seperti kita menyukai mereka.

Bagaimanapun, cerita ini ditulis dari sudut pandang si pengarang. Jika pengarang merasa tokoh-tokoh tersebut penting, maka itulah apa yang akan tersampaikan kepada penonton.

Nah, semenjak chapter terakhir manga ini muncul, banyak spekulasi bertebaran terutama setelah trailer season 4 nya. Yah, tentunya mengenai Eren sendiri, yang makin badass.. berbeda dengan dirinya di season 1-3.

Dari kacamata pengarang tentunya kita tidak akan luput untuk menyadari betapa Eren sangat menyayangi teman-teman yang sudah dianggapnya sebagai keluarga. Dan Eren ingin bebas dan ia mengharapkan kebebasan yang mutlak. Pada akhirnya, kita melihat bahwa Eren mengambil jalan yang berbeda dengan teman-temannya, tetapi pada dasarnya Eren sih tidak pernah berubah.

Aku nggak tau ya, katanya iSayama ini suka ngasih kode dan clue dalam cerita-ceritanya, tetapi tentu tidak semua orang paham juga sih.

Kalau aku pribadi, mendapatkan clue yang paling jelas adalah mengenai 'bahwa Eren selalu berjalan maju sejak awal, dan ia tidak pernah berubah'

Ada dua sisi yang harus kita lihat dalam hal ini:
Ia terus maju, untuk merenggut kebebasannya.
Tapi ia tidak pernah berubah, Eren tetaplah orang yang menghargai dan menyayangi teman-temannya.

Walaupun perkembangan karakternya di season 3 menuju 4 sudah mulai meragukan hal tersebut, tetapi entah kenapa ada keyakinan bahwa dari sudut pandang pengarang ia memang sengaja membuat segalanya abu-abu.

Kebetulan karena aku juga membuat sebuah cerita, aku sebagai pengarang juga cenderung tidak ingin pembaca mengetahui dan bisa menebak ceritanya, sehingga ada banyak bagian yang kubuat abu-abu dan meragukan, padahal aku sih sudah memiliki ide dan visi yang jelas untuk akhir ceritanya.

Jadi kupikir, Isayama Hajime pun adalah seorang pengarang yang lebih hebat ia pasti sudah menyiapkan ending yang spektakular dan sudah pasti, tetapi ia tidak ingin hal itu mudah di tebak.

Kuharap sih.

Tapi biasanya sih gitu.

Update 10.09.20

Kasihan Leviiiiiii 
Aku nggak tau kenapa dia dibeginiin sihhh Levikuuuuuuuuuu...
Ketika dapat kabar dan spoiler dari chapter 132 jujur aja aku berharap mending Levi yang mati duluan daripada ditinggal mati mulu .. Akutu gak kuatt huhu






Salam, Adlina Haezah

Comments