Review Film Thriller - Horror THE VISIT (2015) - Aneka Catatan

WARNING!

Beberapa Review di blog ini sebagian besar merupakan spoiler. Persiapkan diri anda sebelum membuka artikelnya. Trimakasih. -author-

Review Film Thriller - Horror THE VISIT (2015)


Berdasar rekomendasi yang kudapatkan dari bukunya Memahami Film 2 aku penasaran dengan film The Visit, juga karena temanku bercerita dengan begitu menariknya hingga rasanya aku ingin menonton film ini. So, here I am. Aku akhirnya putuskan untuk menonton film The Visit ini..

Seperti biasa, reviewku mungkin akan terkesan subjektif, karena selain referensi film yang kutonton belum mumpuni, selera orang juga beda-beda, dan seleraku mungkin ketika menonton film ini adalah The Visit ini.

Bisa jadi, yang paling membuatku tertarik dengan film ini adalah twist yang disajikan di dalam ceritai ini. Biasanya memang, yang membekas adalah film dengan twist yang tidak terduga. Seringkali susah untuk lepas dari ingatan.

Kembali lagi, referensi film horror yang kutonton belum mumpuni, sehingga jika bagiku cerita ini menarik maka itu dikarenakan aku menemukan hal baru lagi dalam film ini, which is orang lain mungkin sudah sering menemukannya pada film-film yang mereka tonton.

Jadi, The Visit ini sendiri merupakan film karya M. Night Shyamalan dan iya, baru ini film dia yang aku tonton. Aku lihat reviewnya, ternyata ada beberapa film yang pernah jadi favorit di tahun 99-2000an awal ya... aku penasaran. Belum nonton. Mungkin setelah ini aku akan coba tonton film dia yang lain yang katanya sih banyak yang suka.



Aku menonton film ini karena tertarik dengan konsep found footage yang dihadirkan oleh film The Visit. Film found footage horror atau thriller memang yang paling membekas untukku pribadi hingga saat ini adalah Paranormal Activity. Beberapa film konsep ini yang aku lihat lainnya ternyata hanya menjadi biasa-biasa saja. Bahkan karena aku akhirnya mengikuti serial Paranormal Activity, aku mulai bosan dengan gaya ini.

Tapi karena beberapa rekomendasi mengatakan bahwa The Visit bagus dan konsep yang digunakan adalah found footage ini aku jadi membayangkan akan seperti apa.

The Visit sendiri bercerita tentang dua orang kakak beradik yaitu Becca dan Tyler yang berkunjung ke rumah kakek neneknya untuk pertama kalinya, karena mereka juga sejak lahir belum pernah bertemu dengan mereka. Mereka naik kereta berdua saja ke rumah kakek neneknya, sedangkan Ibunya berlibur.

Akhirnya mereka habiskan 7 hari liburan mereka di rumah kakek neneknya.

Sekilas cerita ini terdengar begitu 'biasa'. Siapa sih yang tidak pernah berkunjung ke rumah kakek neneknya? Itu adalah hal yang lumrah dan biasa banget untuk setiap anak-anak berkunjung ke rumah kakek neneknya. Sekilas film ini membawa kita merasakan kembali hari-hari ketika kita sering melakukan kunjungan serupa.


Kukatakan film ini di awal menghadirkan suasana dan situasi yang cukup realistis. Kecanggungan dua orang kakak beradik kepada kakek neneknya yang beda generasi. Banyak hal yang nggak nyambung karena pantaran umur yang terlampau jauh dan bedanya pemikiran, tetapi kita berusaha untuk secara emosional tetap terhubung ke mereka karena mereka kan, kakek nenek kamu. Jadi, waktu nonton inipun aku kembali mengingat hari-hariku ketika berlibur di rumah kakek nenek. Seringkali aku hanya ingin main sendiri, dengan adik atau teman tetangga karena lebih nyambung. Kalau ngobrol sama kakek atau nenek suka bingung sendiri harus menanggapi dengan bagaimana. Tapi ada saat dimana kita bisa merasakan kasih sayang mereka ketika mereka menyuruh kita untuk makan, untuk tidur, dan lain-lain..

Awalnya, cerita di film inipun hanya sesimpel itu.

Hingga hal-hal yang membuat dahi berkerut karena keanehan orang tua di rumah itu. Tapii... waktu dengar penjelasannya, atau hasil pencarian internet dari Becca juga aku nggak terlalu ambil pusing. Oh, mungkin memang banyak kelainan seperti itu. Toh mereka juga sudah tua, jadi bagiku sih wajar saja.

Aku mencoba menebak, lalu bagaimana akhirnya nanti? Apakah mereka nggak betah lalu nggak mau balik-balik ke rumah itu lagi kalo pulang?
Atau mereka nantinya akan tetap menyimpan rasa sayang meskipun tahu kakek neneknya ini aneh semua?



Dan kupikir memang demikian, ketika di hari terakhir Becca dan Tyler membuat video penutupan yang sedih untuk dihadiahkan pada Ibunya di rumah yang sudah 19 tahun tidak pernah bertemu orang tuanya.

Oh well, lagi-lagi tidak sesimpel itu.
Ada yang lebih komplek dari hal-hal ini. Bahkan ketika akhirnya kenyataannya terungkap, hal-hal aneh yang terjadi justru jadi terdengar lebih masuk akal. Memang sih, kakek neneknya itu aneh semua (mungkin gila) tapi ada yang lebih buruk dari hal tersebut.

That's the best!
Menurutku ketika akhirnya Mama mereka mengatakan sesuatu yang membuatku tiba-tiba merinding, jantung berdegup kencang, dan menahan nafas, harus kukatakan bahwa twist di film ini cukup berhasil. Sama sekali tidak terbayangkan olehku bahwa ceritanya akan seperti ini. Dan aku menyukainya.

Banyak hal yang kusukai dari film ini, jujur saja. Meskipun rating di IMDB tidak mendukungku untuk mengatakan bahwa film ini bagus, tapi memang, film ini bagus. Terutama secara plot yang terus-terusan membuatku penasaran.

Sosok Becca dan Tyler awalnya tidak terlalu menarik perhatian. Bahkan jujur kukatakan aku sebenarnya tidak menyukai bagian Tyler ngerapp. Maksudku, what the hell? dia ngapain sih? Trus gaya-gayanya yang naif dan sok melakukan penyelidikan tanpa tahu apa sebenarnya yang sedang ia selidiki itu.

Becca malah lebih bijak bagiku. Dia mencoba menikmati liburannya meskipun banyak hal yang ditemuinya mulai tidak wajar. Bahkan ketika dia menemukan alasan yang melegakan, langsung diterima olehnya. Meskipun begitu, disaat dia harus melindungi sang adik, ia pun bahkan melakukannya.

Semakin berkembangnya cerita, nah dua kakak beradik ini semakin menjadi fokus utamaku. Hubungan keduanya sangat erat, kasih sayang satu sama lain juga terlihat begitu dalam, bahkan cara melindungi satu sama lain membuatku terharu. Mungkin ada saat dimana mereka bertengkar, tetapi dengan cara mereka sendiri juga mereka tunjukkan rasa sayangnya.



Dan Deanna Dunagan bagikut memerankan sosok Nana dengan cukup sempurna. Di awal ia terlihat begitu sehat dan cantik untuk ukuran seorang nenek. Tetapi banyak hal tidak terduga dari tokoh ini. Banyak sekali. Sering kita dihinggapi perasaan cemas mengenai bagaimana tanggapannya terhadap hal-hal yang kita lakukan padanya, atau apakah ini salah atau benar. Ekspresinya lebih sering tidak menunjukkan apapun. Hanya sekilas saja tampak emosi di dalam dirinya, kadang kulihat itu sebuah kasih sayang, tapi ada saat aku juga sangat takut oleh sosok ini.

Kalau aku menjadi dua bersaudara seperti dalam cerita ini, di akhir aku yakin juga akan merasakan ketegangan dan ketakutan yang sama ekstrimnya seperti mereka.

Secara teknik, memang penggunaan found footage membuat kita benar-benar hanya diberikan keleluasaan dan 'ketahuan' sebagaimana yang dialami para tokohnya. Kalau mereka nggak tahu, ya kita juga nggak tau. Kalau mereka mengetahui sesuatu, kita juga akan tahu. Tensinya diatur cukup baik dan mulus, sehingga apa yang awalnya liburan untuk bersenang-senang menjadi sebuah mimpi buruk, dan itu kita juga sama-sama kaget ketika tiba-tiba cerita menjadi semakin mengerikan. Memang sih, karena pengalaman kita hanya terbatas pada apa yang kamera lihat, jadi pada banyak kejadian (terutama di klimaks) kita banyak meraba-raba mengenai apa yang tengah terjadi. Penggunaan kameranya cukup realistis, sehingga jika mereka dalam kondisi tidak mungkin fokus pada beauty shot dari kamera yang mereka pegang karena ketakutan, ya itu wajar. Meskipun begitu, kupikir bagian-bagian pentingnya tetap membuatku merinding ketika mereka aku tahu apa yang bisa dilakukan oleh dua anak-anak yang panik ini.

Aku berhasil dibuat tahan nafas beberapa kali, terutama ketika malam hari, ketika si Nana sudah menunjukkan tanda kegilaan. Semakin akhir, semakin tidak terhitung berapa kali aku menahan nafas agar tidak berteriak. That's a good thing. Karena ini bukan film horror dengan objek hantu jadinya memang thrillernya cukup khas. Aku suka karena thriller disini tidak ditunjukkan dengan kesadisan yang mengerikan...


Hal lain yang cukup kuperhatikan adalah ketiadaan musik pengiring di sepanjang film. Hanya di awal untuk pembukaan dan di akhir ketika ending. Selain itu hanya menggunakan atmosfir khas dari rekaman kamera. Aku cukup suka justru dengan tidak adanya satupun scoring dan sound effect seperti film pada umumnya. Semua suara disini berjenis diagetic sound sehingga suara yang muncul memang suara dari video yang kedua anak ini rekam dan memang masuk dalam cerita. Dan tidak menggunakan scoring tetapi tetap bisa menghasilkan suspence yang pas itu saja menurutku sudah 'wah'/ Itu tidak mudah mengingat penggunaan sound effect biasanya memang ditujukan untuk memperkuat mood pada filmnya. Disini tidak begitu, moodnya bahkan dibangun cukup dengan keberadaan dua kakak beradik ini.

Film ini bisa kubilang cukup sederhana. Menontonnya pun bahkan tidak terasa lama, karena pace-nya cukup dibuat mulus dan cepat. Penggunaan pergantian hari juga membuat kita cepat mengekspektasikan berapa lama waktu untuk menonton film ini, sehingga jarang untuk cek durasi filmnya selama menonton. Akhir kata kukatakan bahwa penggunaan konsep found footage dalam suatu film horror memang harus kembali diarahkan ke tujuan kenapa konsep ini digunakan. Selain itu, pengemasan ceritanya juga harus diperhatikan benar-benar karena tidak mudah membuat penonton tetap merasa cemas dan takut apalagi jika dibatasi hanya dari satu sudut pandang kamera saja. 

Salam, Adlina Haezah
Review Film Thriller - Horror THE VISIT (2015) Review Film Thriller - Horror THE VISIT (2015) Reviewed by Adlina Haezah on September 24, 2017 Rating: 5

No comments:

Syarat menambahkan komentar:

>> Jangan berkomentar dengan menggunakan Anynomous
>> Gunakan account google kamu atau jika tidak gunakan URL, yang penting ada nama kalian.. :)
>> Tidak menerima komentar berisi spam..
>> Apabila komentar tidak muncul, berarti komentar kalian belum di moderasi. Jadi tolong mengerti ya.. :)

terimakasih

-------------------------------------||-------------------------------------

Regulation to fill the comment box:

>> Don't use Anynomous
>> Use your google account or just your link/ URL. The main point is, always put your name here :)
>> Cannot receive any spam comment such as comment that it's not relevant with my topic
>> When your comment does not appear, it because I haven't approve that or I haven't read that. So just wait until I read that, please understand :)

Thank you

Powered by Blogger.