Reaksi tentang Bumi Datar (Flat Earth) Part 1



Sebelum aku memulai, aku ingin menegaskan, bahwa aku tidak peduli mengenai apa yang mereka pikirkan ketika membaca ini. Mau mereka percaya kek, mau tidak, itu mereka punya argumen masing-masing. Yang pasti, kalau berdebatnya di postingan ini, kuharap video flat earth 101 di youtube sudah ditonton semua ya, dan aku memberikan lapak bebas bagi siapa saja yang mau berdebat, tapi bukan aku. Jangan tanya aku, jangan memintaku bukti, karena aku hanya salah satu yang menonton. Aku bertindak sama ketika aku belajar di sekolah: mendengarkan, memahami, dan walaupun nggak paham, setidaknya aku tahu gambaran besarnya. Begitupun ketika menonton ini, terutama pembahasan soal angka aku sama sekali tidak mengerti, tapi setidaknya aku paham maksud secara garis besar.

Aku sudah mendapat keduanya, tentang bumi bulat (selama di sekolah) dan tentang bumi datar (melalui video ini), jadi biarkan aku memahami dan mencernanya sendiri. Aku tidak akan ikut membuktikan, karena pada dasarnya aku memang tidak pandai soal begitu. Aku hanya akan meresapi, dan meyakini salah satunya.

Sekali lagi, jangan tanyakan ke aku, jangan minta bukti ke aku, karena aku bukan pakarnya. Ada banyak pakar yang mau dan bisa membuktikan, tanyakan saja mereka. Ini hanya reaksi dan review pribadiku mengenai pembahasan ini. Dan anggaplah aku seperti anak sekolah pada umumnya, yang menerima suatu pembelajaran kemudian hanya disuruh menghafal agar hafalan itu bisa menjadi jawaban ketika ujian.

Disini aku tidak akan menuliskan fakta-fakta njlimet, karena akupun hanya salah satu dari segelintir manusia yang memperoleh informasi ini. Aku adalah satu dari mereka yang memiliki hak untuk memilih atau menolak pembahasan tersebut. Jadi aku tidak akan mencoba menjabarkan lagi logika-logika yang sudah disampaikan oleh penganut Flat Earth, kalau kau ingin coba pahami dan membuka pikiranmu dengan netral, cobalah cari tahu, cobalah tonton videonya, cobalah baca artikelnya. Kalau kau merasa tidak setuju, punya argumen kuat, ya coba ikut buktikan seperti yang lain, videokan dan beritahu semua orang kalau argumenmu tetap yang paling kuat.

Toh, apa salahnya mempelajari hal lain? Pertimbangkan saja sendiri.

Artikel ini juga merupakan komentarku terhadap video Flat Earth 101 yang ada di Youtube, dan sengaja untuk komentarnya dinonaktifkan (karena mungkin akan menyulut perdebatan yang tiada henti), bahkan untuk kolom like dislike juga dinonaktifkan, sehingga sulit bagiku untuk berkomentar. Yah, lagian komentarku akan panjang. Jadi kutuliskan saja disini. Anyway, seperti pada reviewku biasanya, review ini juga ditulis karena aku merasa sangat ingin membagi perasaanku yang muncul setelah menonton videonya, dan merasa seperti aku perlu mengungkapkan satu dan lain hal tentang hal tersebut. Bukan tentang fakta-faktanya, bukan tentang logikanya, tetapi tentang keindahannya. Tentang kehebatan alam, dan terbongkarnya rahasia rahasia alam, yang mungkin ini hanya secuil dari rahasia alam yang lain.

Aku lebih suka merengkuh hal-hal yang menarik dan menekan sisi emosional karena membuatku semakin dekat pada Tuhan dalam hal yang baik, daripada memahami angka-angka fisika dan matematika tapi hanya membuat pikiranku saja yang bekerja, tidak dengan hati dan keyakinan.

Nah, jadi aku mulai saja ya, dan untuk yang pertama kali, pembahasanku pendek saja sih.

That's a mind blowing reality. Pertama kali diutarakan oleh temanku, ketika dia bertanya:

Temanku: Lin, kamu udah denger yang tentang bumi datar atau bulat?
Aku: mmmm *udah males dengerin, kayaknya gak penting amat, jelas-jelas bumi itu bulat, kan kita udah diajarin dengan buku tebal-tebal itu?*
Temanku: Kamu percaya yang mana lin?
Aku: Apanya?
Temanku: Bumi bulat atau datar?
Aku: Nggak tau aku nggak peduli. Emang kenapa kalau bumi bulat? Emang kenapa kalau bumi datar? Toh kehidupan tetap berjalan. *mikirin itu pasti pusing tujuh keliling. untuk apa kita membongkar lagi hal-hal yang sudah dirincikan sejak kita masih sekolah*


Sejujurnya, mendengar ada yang menyebutkan bahwa bumi itu datar dan bukannya bulat membuatku takut. Aku takut, bagaimana kalau ternyata sia-sia sudah yang aku pelajari selama di sekolah? Bahwa apa yang kutahu selama ini adalah palsu, bahwa kenyataan mengenai dunia adalah palsu, apalagi kemudian yang dipalsukan?

Saat itu aku takut, bagaimana kalau realita itulah yang merupakan propaganda, konspirasi, cuci otak, seperti ISIS yang memberikan bukti-bukti seolah Islam dimatanya adalah yang terbaik tapi ternyata mereka adalah aliran sesat, terlihatnya saja hebat.

Itu yang kutakutkan awalnya, hingga aku tidak berani menonton barang sedikitpun. Tidak mau mencari berita barang sedikitpun. Tidak mau mencoba bahkan membicarakan hal tersebut. Kututup mata dan telingaku, dan aku tetap melalui setiap hari dengan biasa, toh memang tidak ada yang berubah.

Hingga suatu hari, untuk pertama kalinya aku mendengar ayahku baru saja menonton videonya dari episode 1 hingga terakhir.

Aku: Ih, ayah ngapain sih nonton begituan
Ayah: Ayah merinding.
Aku: kok bisa? *perkara bumi bulat atau datar doang padahal*

Ayahku mulai bercerita tentang beberapa hal yang mematahkan persepsi akan beberapa hal, terutama soal NASA. Tapi karena penjelasan ayahku kabur, dan nggak jelas, aku memutuskan untuk coba saja episode pertamanya.

Ketika aku akhirnya menyaksikan episode pertama...
Ehm.. gara-gara penjelasan di awalnya saja, tiba-tiba aku jadi berfikir... Dan ini adalah yang menghantam kesadaranku begitu saja:

Bagaimana kalau semuanya dibalik? Bagaimana kalau aliran sesat itu justru sudah coba ditanamkan sejak kita masih kecil? Bagaimana kalau kenyataan sesungguhnya sengaja disembunyikan agar tidak disalahgunakan, dan kenyataan itu dibongkar disaat yang tepat?

Bagaimana kalau kata-kata Adolf Hitler ternyata sudah diterapkan di dunia kita sejak lama? "Buatlah sebuah kebohongan yang besar, kemudian jadikan kebohongan itu sederhana, lakukan berulang-ulang, maka kebohongan itu akan menjadi nyata"

Well, kita tidak akan pernah tahu. Jadi, pendapat atau munculnya pembahasan tentang flat earth ini bisa diterima atau tidak. Hanya saja, karena kita sudah menerima sejak kecil mengenai bumi itu bulat, kenapa tidak coba memahami kenapa orang memiliki pendapat lain tentang bumi? Kenapa kau takut untuk memahami? Cobalah buka pikiranmu, lihat, pahami, kemudian kamu tanyakan lagi kepada dirimu, mana yang kau yakini.

Tidak banyak yang diceritakan disini, semuanya sebenarnya terserah pada penonton. 

Kenapa aku menjadi tertarik untuk mengikuti episode selanjutnya, karena beberapa fakta yang diungkapkan disini bukannya memberikan aku satu ide untuk mendebat orang-orang yang menganggap bumi itu bulat. Tidak, mungkin aku bahkan tidak peduli bagaimana orang lain memandang apakah bumi itu bulat atau datar.

Hanya saja, secara personal, untukku pribadi, kesadaran ini memberikan aku keyakinan yang lebih dalam justru akan keberadaan Tuhan. Sejak aku kecil, aku diperkenalkan dengan penguasa alam semesta, Allah SWT. Aku tidak begitu tertarik dengan ilmu yang mempelajari angka, fisika, matematika... no. Why? bagiku itu bukan bagianku. Aku tidak merasakan hal yang menarik mengetahui berapa ukuran bumi, berapa ukuran bulan, berapa jarak bumi ke matahari, berapa jarak bumi ke bulan. Kenapa bisa terjadi gerhana matahari. Oh, aku tidak tertarik. Bagiku, itu tidak memperikan dampak kepadaku secara personal.

Hanya saja lucunya, pengungkapan yang disampaikan di episode ini, memberikan dampak padaku untuk lebih meyakini keberadaan Ilahi. Keindahan dunia, bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini. Mungkin bagi mereka, dunia muncul karena kebetulan (teori Big Bang), tapi aku selalu meyakini bahwa Tuhan menciptakan dunia sebagai tempat dimana ia turunkan Adam dan Hawa. Keyakinan ini terasa jauh lebih indah, bagiku secara personal, mengetahui bahwa dunia kita berada di bawah belas kasih Tuhan. Ada kekuatan maha dahsyat yang manusia manapun, sepintar apapun sekalipun mereka bersatu, tidak dapat menandingiNya.

Mungkin bagi mereka, bulan itu terang karena tertutup matahari (yang tanpa makna), aku juga tidak peduli. Tapi ketika aku dijelaskan mengenai logika keberadaan bulan dan matahari, siang dan malam, bukannya hadir secara kebetulan, melainkan karena mereka adalah simbol keseimbangan dunia, aku terpukau. Aku merasa ingin menangis. Bahkan bulan dan matahari yang tidak pernah kita hiraukan, keberadaannya bahkan memiliki makna, tidak sekadar sebuah benda planet yang ditutup matahari kemudian menerangi bumi. Bulan memiliki sinarnya sendiri yang tidak panas melainkan dingin, sedangkan matahari memiliki sinarnya sendiri yang panas dan terang. (dan  ini belum seberapa, tonton saja, jangan langsung didebat hanya karena aku berkata demikian)

Aku lebih menyukai kisah Nichola Tesla, yang namanya hilang dari sejarah, dari buku-buku pelajaran, padahal ia adalah investor banyak tenaga yang kita gunakan hingga sekarang: listrik, lampu wireless, dll.  Dia adalah penemu menara-menara telkom, tetapi dirinya dikucilkan, dihilangkan dari sejarah, karena ia tidak menuruti permintaan kaum elit membuatkan mereka menara telkom, melainkan justru membuatkan sebuah menara besar agar seluruh umat manusia dapat menggunakan listrik secara gratis (yang menaranya dihancurkan karena diberikan secara gratis). Nichola Tesla meyakini bahwa bumi adalah tempat makhluk hidup saling membantu. (dan  ini belum seberapa, tonton saja, jangan langsung didebat hanya karena aku berkata demikian) 

Aku lebih menyukai keindahan dari keberadaan 7 lapis langit, aku lebih menyukai keindahan dari bukti-bukti yang menyatakan bahwa bumi adalah sebuah pusat alam semesta, dimana ia hanya ada satu satunya di alam semesta. Aku suka polanya, indah, tidak kaku seperti gambaran susunan planet yang kita tahu. Aku lebih menyukai kenyataan bahwa bumilah yang menarik semua benda di luar angkasa untuk memutarinya. Bahwa dia adalah pusat kosmos. Bahwa bumi berbeda dari segala hal yang mereka sebut planet. Aku lebih menyukai kenyataan bahwa semuanya datang memutari bumi, bahwa segala hal di alam semesta justru saling bersinggungan dan terkait satu sama lain demi kehidupan di bumi (demi keseimbangan di bumi), karena begitu spesialnya bumi di alam semesta daripada menyamakan bumi dengan planet-planet lain yang dianggap mengitari matahari. Menurutku itu hal yang indah, ketika aku tahu bahwa bumi tidak disejajarkan dengan planet lain dan sama-sama kami semua (bumi dan planet lainnya) memutari matahari, melainkan justru ia yang dikelilingi alam semesta. (dan ini belum seberapa, tonton saja, jangan langsung didebat hanya karena aku berkata demikian)

Aku mungkin lebih setuju bahwa bumi datar, bukanlah karena ia merupakan suatu kepercayaan baru yang muncul untuk mencuci otak seluruh umat manusia yang meyakini bahwa bumi bulat. Tapi bagaimana kalau dibalik, bagaimana kalau ternyata kita yang dibohongi oleh seluruh dunia? Bagaimana kalau memang satelite itu tidak ada? Bagaimana kalau memang tidak ada astronot yang pergi ke bulan? Bagaimana kalau memang roket itu tidak pernah bisa menembus langit? Bagaimana kalau ternyata matahari jaraknya sangat dekat dengan bumi? Bagaimana kalau ukuran bumi lebih besar dari matahari? bagaimana kalau ukuran bulan sama dengan ukuran matahari?

Bagaimana kalau, bumi ini dilingkupi oleh 7 lapis langit berbentuk kubah yang membentuk dengan indahnya, memutari bumi dan berporos pada bumi itu sendiri? Bagaimana kalau alam semesta tidak seperti yang digambarkan dalam film-film yang kita tonton, tercerai berai dengan (mungkin) sama indahnya, tetapi bagaimana kalau alam semesta itu sendiri ternyata merupakan atap yang melingkupi bumi? Bagaimana kalau apa yang kalian lihat melalui teleskop adalah bentuk langit sesungguhnya?

Beranikah menerima kenyataan jika yang terjadi memang berlawanan dengan keyakinan kita selama ini?

Cobalah...


To Be Continue


Salam, Adlina Haezah

Comments