Kisah Cinta Saudara Kandung "A Thousand Boy Kisses"

A Thousand Boy Kisses

My rating: 4 of 5 stars

Novel ini bakin nangis, kejer.

Akhirnya aku tetep baca buku ini karena ini hasil rekomendasi dan ratingnya juga tinggi jadi setelah mempersiapkan diri menghadapi apa yang akan kubaca, kuberanikan diri juga membaca buku ini. Jujur aku pinginnya baca novel ini cepet-cepet biar cepetan sampai ending biar cepetan kelar. Tapi di lain sisi aku juga tahu bacanya bakal lama, jadi gini deh, lama kelarnya hahahah.

Anyway, secara cerita (dengan melupakan endingnya dan konflik utama yang errgh sebel banget itu), ceritanya bagus banget. Aku mau bayangin ceritanya si Poppy sembuh deh biar aku bisa lihat novel ini dari sisi yang sebenernya aku anggap bagus tapi tertutupi oleh kekesalanku sama keharusan penerimaan cerita bahwa si Poppy harus pergi (view spoiler). Hiks.


Cerita tentang dua teman kecil yang tumbuh bersama sebagai sepasang kekasih. Emm.. sebenernya aku agak aneh waktu diceritain si Poppy ini dapet first kissnya dari anak usia 8 tahun. Mereka dewasa banget mennnn, padahal masih muda. Apalagi bagaimana perlakuan Rune ke Poppy waktu mereka 15 tahun itu rasanya kayak lihat kisahnya orang umur 20 tahunan. Emang bener mereka terlalu dewasa untuk ngobrolin hal-hal yang kalo aku lihat langsung pasti aku ngiranya itu cinta monyet. Seumur begitu meeen, tau apa mereka tentang cinta?

Tapi disini Poppy dan Rune diceritakan amat mengerti tentang istilah tersebut. Mereka udah bikin janji sehidup semati malah. Jadi kebanyakan ketika aku baca buku ini aku nyaris lupa sama mereka yang umurnya masih remaja.

Aku akan menilai secara objektif, karena kalo subjektif jatuhnya aku nggak suka sama novel ini, hahaha.

Novel ini memberikan konflik yang padat, dan disetiap konflik selalu tensinya naik, dramatiknya terjaga, dan rasanya selalu ada klimaks di setiap masalah yang harus diselesaikan dua tokoh utama cerita ini. Mulai dari awal, ketika Rune yang pendiam dibikin terpesona oleh keceriaannya Poppy, kemudian ketika Poppy untuk pertama kalinya dicium sama Rune, kemudian ketika kemudian ia sudah berusia 15 tahun dan ditinggal Rune, trus mereka berdua ketemu lagi dua tahun kemudian dalam keadaan yang berbeda sama sekali dimana Rune jadi kasar dan serba gelap sedangkan Poppy harus menerima kebencian dari Rune, kemudian ketika akhirnya Poppy menyerah dan menceritakan segalanya kepada Rune, lalu dimulai lagi perjalanan mereka yang jauh, lebih, menyakitkan.

Rune dan Poppy adalah teman kecil, sahabat sejati, kekasih, soulmate. Kayaknya mereka itu harus berdua dan nggak bisa dipisah-pisah. Bagiku Tillie Cole berhasil memberikan chemistry yang kuat untuk kedua tokoh ini, bahkan penggambaran tentang bagaimana mereka berdua sulit untuk dipisahkan ini juga dibangun dengan baik. Kata-kata, terutama dialog yang diungkapkan oleh setiap tokohnya selalu sarat emosi. Bagaimana Cole merangkainya sampai bisa terus-terusan menghipnotis di sepanjang buku, aku juga nggak tahu, tapi yang pasti pada setiap dialog kita pasti diingatkan sama masalah utama, dan itu langsung bikin sedih.

Di awal sih paling ceritanya agak lambat, soalnya iya, terlalu cheesy momen-momen masa kecil mereka. Terlalu bahagia, terlalu sempurna, terlalu romantis, dan aku nggak terlalu dapet feelingnya disitu soalnya aku nggak begitu percaya sama cerita yang diawali dengan kisah yang terlalu romantis dan berhakhir sama romantisnya. Jadi cerita ini mulai bikin aku tertarik justru setelah 2 tahun mereka berpisah. Aku suka dengan bagaimana Cole menggambarkan karakter Poppy 2 tahun ketika akhirnya ketemu lagi sama Poppy. Emosi yang dialami Poppy tersampaikan dengan baik terutama untukku. Aku bisa merasakan bagaimana rasanya dibenci oleh orang yang paling mencintai kita dan paling kita cintai, bagaimana rasanya kita adalah penyebab perubahan drastic ke sisi yang gelap dari orang yang kita cintai itu, dan bagaimana rasanya tidak bisa berbuat apa-apa dengan takdir yang harus dihadapi. Menjadi seorang Poppy, menggunakan sudut pandangnya, itu sedih banget, tapi aku sebenernya juga menikmati berada di sisi Poppy yang serba sedih. Jujur aku lebih menikmati dia yang sedih daripada yang ceria dan semangat hahahaha, mungkin karena dengan begitu aku lebih berhasil merasakan emosinya. Apalagi waktu Poppy ngedapetin Rune mau cium Avery, itu yang jleb jleb jleb banget. Rasa cemburunya Poppy cute dan alami, jadi aku suka. Kemudian mulai deh itu tensi naik waktu Rune ngejar-ngejar Poppy dan… yah begitulah, habis itu aku nangis mulu pokoknya. Habis sedih banget, aku kasian sama Rune yang mau ditinggal Poppy dan nggak bisa berbuat apapun, yang nggak bisa ngerubah takdir. Saking nggak teganya aku sama Rune aku sampe pingin teriak ke penulisnya ‘ngapain sih bikin cerita kayak giniiii siiiih?!!!!! Rune harusnya bisa hidup selamanya punya cucu sama Poppy!!!! Kenapa dia harus ngerasain kayak gini mana dua udah kehabisan waktu dua tahun lagii!!!’

Pokoknya mulai dari bagian ketika semuanya terkuak, hahahha, iya mulai dari bagian si Rune udah kayak mayat hidup karena satu-satunya penerang hidupnya akan segera pergi, (view spoiler). Itu nye-sek abissss. Setiap momen manis mereka, momen apapun antara Rune dan Poppy selalu dibayang-bayangi akhir cerita yang udah tau bakal kayak gimana, dan moodnya Rune yang naik turun, yaampun sumpah itu sedih banget. Waktu si Poppy di ajak pergi sama Rune habis dia mau cello dan bangun ngedapetin si Rune nangis diem-diem padahal seharian ini berusaha kuat setiap di sisi Poppy. Huaaaaaa busettttttttt mereka berdua nggak pantes banget dapet takdir kayak giniiiii. Seriously, itu bikin hatiku capek. Kalo bisa lari, kayaknya hatiku udah lari marathon dan udah kehabisan nafas deh, soalnya dia sekitar 70%an buku ternyata udah nyaris nggak kuat buat ngelanjutin.

Well, begitulah. Pokoknya buku ini sedih banget. Seeedddiiiiih banget, dan subjektif aku nggak suka sama cerita yang sedih. Bikin kepikiran, bikin keingetan, bikin kebayang2, bikin pingin nyuruh orang baca juga biar ikutan nangis, berharap kalo endingnya beda kayak gimana tapi gak bisa ngubah apa-apa. Anyway, kembali secara objektif, endingnya udah bagus banget sih. Emmm… ya, aku emang berharap kalo emang ceritanya harus begini kedua tokoh juga harus diakhiri dengan persiapan yang matang. Jadilah begitulah, Rune siap, Poppy siap, dan cerita selesai. Trus dikasih epilog yang manis juga menurutku bonus banget. Setidaknya kita dikasih gambaran akhirnya mereka bahagia kan ya. Huhu. Tetep aja sedih banget. (view spoiler)

Sebenernya novel ini aku kasih nilai full, tapi karena sebenernya aku nggak pingin terjebak dengan bacaan macam ini aku kasih 4. Yah, seneng akhirnya selesai juga nih buku yang sedih dan nyesek abis.


Comments